Ini kisah tentang seorang wanita pemeluk mentari
Wahai kasih taukah kau ada aku di sini
Aku memundukkanmu namun memang kau tak tau, kuyakin
Aku gelapkan kesetiaanmu, kau ada di sini, memelukku
Aku tak sering bertemu dengan dirimu, sekalinya bak seribu
Hari ini kita bertemu, kau memelukku
Selepas pelukanmu kau menyuruhku melihat matamu
Ahh, kesedihan dan kesedihan yang ku lihat
Kau bertanya padaku apa yang ku lihat dimatamu
Aku hanya berkata kesedihan
Kau membenarkan dan kau menceritakan
Bulan memerah menghantarkan diriku pada kenanganmu
Kau merincikan apa yang terjadi dan bagaimana
Aku mendengarkan, kutahan senyumku
Kau bersedih, aku bahagia
Ini negasi yang pertama
Setelahnya kau berkata kau sedang berbunga
Aku heran karena ku tak melihat itu, sesungguhnya
Semilyar pertanyaan muncul dalam benakku
Aku singkatkan menjadi secuil kata saja
Kau bercerita tentang yang tak kulihat itu
Bingung, sedih, marah, gumam, serapah
Dongkol kosmis diri yang ditahan pencitraan
Rasanya memang dunia hanya yang ku pijak
Kau berbunga akan hal yang tidak berbunga
Aku menahan keramahan dan kemarahanku
Kau bahagia, ku bersedih
Ini negasi yang kedua
Kedua cerita adalah satu dirimu
Dua negasi adalah dua diriku
Hendaknya semesta pun tau apa itu
Aku menyibak semesta, kuharap ada jawab[srjd]
Comments
Post a Comment