Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2014

Aku Menunggu

Wahai gadis, dirimu masih belum dapat kusentuh Namun jiwamu, aku sudah sangat rasakan Hatimu hangat, bahkan aku cukup itu dikala malam menggerayang Peringaimu manis, aku akan selalu membuat itu jadi manis Ini ungkapan, aku memang belum sempurna Aku ingin, hanya ingin mendalami hidupmu Berjaya merasakan derasnya kebahagiaanmu Menggebu bagai bahorok yang turun dari atas gunung Aku menunggu kau siap, aku menunggu Aku menunggu kau percaya, aku menunggu Aku menunggu kau hadir, aku menunggu Aku menunggu hatimu, aku menunggu Kebahagiaanku tak kubiarkan diatur orang lain Dirimu, mungkin salah satu pengecualian Siaplah wahai gadis baik hati Aku sudah siap, siap menerima dirimu yang indah Jakarta, 30 April 2014

Telah Larut

Maha patih, sampai malam ini kau enggan memberi sumpah Malam yang tajam menggumamkan sejuta kisah Aku bertatih semua akan berlubang dalam perih Tapi aku yakin semua bisa bersedih Malam kian larut, mataku sudah digentayangi Aku sangat mencoba, menggumam tentang hal duniawi Nyatanya aku bisa tak sadarkan diri sesudahnya Selamat malam, aku berkata kepadamu, kepada para pejajak kata Jakarta, 30 April 2014

Bait Takdir

Terpandang dalam hati yang enggan berbisik Meradang pada diri yang mulai merasakan satu Menerjang patahan langit yang ingin ikut campur Bergandeng dengan surga yang menyentuh diri Kita, baru saja berbagi nestapa yang memiliki indah Menggumam, berceloteh bagai waktu sudah hampir habis Berjalan, walau ruang membatasai keniscayaan diri kita Berirama, merdu bagai musik sang dewa harpa yang elok Kuasa, aku berkata tanpa aku harus susah berupaya Menggaet, alam yang terik menyinariku atas berkata Merangkul, aku sudah menggambar yang belum nampak juga Bernyanyi, merdu suara gelap yang terlampau indah Selamat malam, wahai pagi hari Aku harap aku sampai kepada hariku Hari dari hati yang mulai menggelora Kebahagiaan dalam pertemuan bait takdir Jakarta, 29 April 2014

Hari Ketujuh

Aku, kamu, hari yang sudah ketujuh Resapan kalimat sudah pada aliran udara Mengecap segala hal kecil maupun besar Mendendangkan tawa serta kesenduan Aku, kamu, hari yang sudah ketujuh Pertemuan ini terasa sesingkat waktu modern Degup meradang tak ayal sudah jauh berlalu Sirat alam membuat terkuak dan mudah dibicarakan Aku, kamu, hari yang sudah ketujuh Rasa nyaman sudah mendoktrin pikiran Dogma kata sudah bersemayam dalam kalbu Memancarkan metafor kehidupan yang hanya sebelah Aku, kamu, hari yang sudah ketujuh Pikiranku menguap, rasa terima kasih aku lontarkan Kata-kataku mencair, mencari ruang dalam seri Pejamanku, selalu terfiksi kejadian yang baru terlewati Selamat hari ketujuh pertemuan kita, dinda :) Jakarta, 28 April 2014

Perang Meradang

Mendulang keganjilan kau bilang berdendang Menggali nada sumbang kau bilang berkembang Membaca naskah sembarang kau bilang meradang Mengagumi hatimu aku tidak bilang sembarang Jakarta, 27 April 2014

Aku Butuh Waktu

Aku tak perlu banyak bercerita Bumi ini telah tau dengan benar alurnya Aku tak perlu banyak berbaur Surgawi sudah menurunkan kisahnya Aku tak perlu banyak bertanya Alam sudah menjawab dengan lugas Aku tak perlu banyak mengumbar Semesta sudah tau betul perihalnya Aku hanya butuh waktu Waktu yang lebih lama dari 24 jam Waktu yang menjelma menjadi equivalen Waktu yang membawa waktu lain dalam kualitas ruang Jakarta, 23 April 2014

Sekotak Persahabatan

Rasanya, dunia sedang mengelabui rasaku Menggelontorkan sisa kenistaan dalam mimpiku Memenjarakan serabut rasa bahagiaku Menatih setiap gelap kalbuku Aku masih tak beranjak walau kurasa perlu Aku hanya tak ingin meninggalkan kotak ini Kotak yang berserah kepada setiap senyum Kotak yang meresapi setiap embun siang hari Rasanya aku sudah bebal Rasanya aku tidak paham Rasanya aku cukup gamang Rasanya aku tak rampung Dunia mayapada, restukah engkau? Celoteh dewa menuliskan tentang itu Bahkan malaikat menengadahkan tangannya Berjejalan hanya demi kotak itu Akhirnya aku paham mengapa ku tak meninggalkan kotak itu Aku merajuk, kotak itu adalah persahabatan Pemberi sezarah kebahagiaan di tengah kesesatan Penyegar nafas yang berjejal dijebak tangis Semoga, persahabatan ini terus berlangsung Kita baru saja bertemu Namun biarkan waktu sama-sama merangkul Senang bisa bertemu, denganmu ...

Kepada Adinda

Aku, sejuta bintang kian meredup Meresahkan rasa yang luluh dalam gelap Mengesankan api yang padam dalam dingin Merangkul kata pahit, menyangkal kepedihan Aku, sejuta bulan yang sudah tak berharga Sinarku kini tak ubahnya mainan dari cina Terperanjat dalam kesedihan begitu banal Ode pengusir rindupun, sirna ditelan amarah Tapi, semua hanya khayal Khayalan tengah malam yang gusar Memeluk indahnya rengkuhan cinta Berhias permata dari bidadari yang jatuh ke bumi Aku melipirkan kata-kata ini Sebagai pengantar kau ke alam mimpi Alam dimana kau bisa melakukan segalanya Selamat tidur, dinda, wanita penuh kelembutan Jakarta, 21 April 2014

Kepercayaanku Runtuh

Aku akan selalu mengingatnya Aku akan selalu menunjuknya Aku akan selalu kecewa Aku akan selalu menyalahkannya Seiring angin membawa semua kejutan Seiring itu pula kau memberi kekecewaan Dilematis ini menggenggam seluruh diri ini Tak ada lagi kau, tak ada lagi baik untukmu Aku pernah, melanggar keteguhanku Ini yang pernah aku buat sendiri Janji kepada diriku sendiri Aku langgar! Demi kau yang memohon begitu sangat Demi kau yang teramat aku hargai Demi kau yang aku anggap bisa Demi kau yang kuanggap temanku Semua menyeruak, aku tak kenal kau Bukan tak kenal, tak lagi ingin mengenal Kau meruntuhkan istana kepercayaanku Murung itu begitu indah Butir darah tak mau beranjak Aku tidak membencimu, tidak Aku sudah memaafkanmu, sudah Aku hanya tidak bisa melupakannya, sangat.[srjd] Jakarta, 19 April 2014

Merdesa, Kurindu

Konon, suatu hari yang pernah dibuat Kini menjadi hilang entah kemana Semua karena satu yang berdampak Hingga semuanya pergi, hilang, semua Aku, sesungguhnya menginginkan mereka Tapi tiada daya yang membuat ini terulang Aku harus merasakan dunia baru Yang sesungguhnya belum kunyamani Entah terkencingi, entah diseblak Aku belum mendapatkan semua ini Banal, semuanya sudah cukup Aku, merindukan kalian Merdesa Jakarta, 18 April 2014

Sajak Kekecewaan

Banyak manusia yang tidak tahu diri Banyak juga manusia yang sangat baik hati Banyak manusia hadir dalam hari-hari Banyak juga manusia berkhianat hati Aku memaafkan, tidak melupakan Aku yang telah mempertahankannya Aku pula yang dikhianatinya Aku mengira kebaikan ada di dirinya Biarlah alam mau berkata apa Yang pasti aku sudah lelah berkata Biarlah dia yang mengkhianati Yang pasti aku tak percaya nanti Jakarta, 16 April 2014

Di Bawah Untuk Ke Atas

Aku baru saja mendapat hentakan Hentakan yang kudapat setelah ku menebak Harusnya ku diam saja walaupun ku tahu Tapi rasa penasaran ini mengoyak kalbu Aku tak bergeming melihat kata-katanya Aku cukup menjumpai juntaian lagit gamang Aku terisak dalam sebuah lamunan panjang Aku terjebak pada pencarian yang belum henti Entah bagaimana aku jadi tak bicara Aku cari, kurasa ada kesempatan Hanya saja, sekarang masih menyakitkan Ku tunggu aku untuk bangkit atas diriku Aku merupakan kaitan terkuat dirinya Alam sudah membimbingku ke jalan rasa Alam juga yang sudah menjadikanku sempurna Setidaknya, untuk esok aku masih punya rencana Aku, lihat saja, aku, menerangkan saja Kulampaui apa yang tertebak tadi Hingga kau hanya bergeming kepadaku Dalam risauan hati yang bersumpah Sekelumit romansa yang kulihat ini Kudengar dari sahabatku sendiri Yang terdekat dengan diri ini Menjadi representasi keadaan diri.[srjd] Jakarta, 9 April 2014

Aksi yang Lain

Terjerat dalam jebakan kerinduan Jika harus ku tatap, ku tak akan ingin melihat Menyana setiap keresahan yang hadir dalam lagu Terpental untuk mau menggiring setiap rasa Aku menjalani kehidupan dengan strukturnya Ceritanya, dikatakan telah dikitabkan Mau tak mau sebiah takdir menjadi momok lain Meleburkan kecintaan dan harapan indah Manusia lupa akan 'takdir', bukan takdir tapi 'takdir' Semua relung dapat menggerakkannya semauku Semau manusia yang ingin melakukan cinta Memecahkan setiap bendungan kesadaran Siapa yang mengurung? Siapa yang menjegal? Siapa yang berkonspirasi? Siapa yang bertanggungjawab? Jawabnya, tidak seorangpun Dirimu sebagai pengurungmu serta yang dituliskan Aksimu dalam hidup, kau yang buat Tuhan menyokongmu, dari atas sana.[srjd] Jakarta, 9 April 2014

Hari Negara

Ini hari yang hampir matang Senja telah di genggaman kepala Hari di mana negara sedang menyelenggarakan negara Tiba-tiba dia datang, lama sekali Terakhir dia mengucapkan sesuatu kepadaku Kali ini dia membaca gambarku Dia menanyakan kepadaku apa aku sehat Apakah aku sehat dengan konsepku Ia bertanya, aku senang sekali Berbicara yang menjadi kesukaanku Dia memancing, tak kehabisan peluh yang bernama topik Aku sampai malam, membicarakan palu arit Aku ingin menjawab sedikit, konon agar ia penasaran Walaupun aku juga penasaran, bisakah ia dipelukku Ahh, dunia sedang baik Negaraku juga sedang baik Sriwedari dunia, muncullah dirinya.[srjd] Jakarta, 9 April 2014

Jelaga

Majemuk rasa seakan berkontestasi untuk menjadi penguasa hati Jiwa yang dulunya ranum kini dibiarkan menjadi jelaga Jelaga putih yang seharusnya suci menjadi kekuatan biasa Mengamini setiap niat tuannya Tak mengenal baik buruk Seperti denyutan nadi yang ingin usai Napas begitu sesak saat jelaga itu ada Rusak! Semua tak terbetulkan sedikitpun Aku yang sedang menatap matahari rasanya lelah Ku berhenti, ya, ku berhenti Ku cari saja jalan lain menuju nirwanaku.[srjd] Jakarta, 5 April 2014