Wahai gadis, dirimu masih belum dapat kusentuh Namun jiwamu, aku sudah sangat rasakan Hatimu hangat, bahkan aku cukup itu dikala malam menggerayang Peringaimu manis, aku akan selalu membuat itu jadi manis Ini ungkapan, aku memang belum sempurna Aku ingin, hanya ingin mendalami hidupmu Berjaya merasakan derasnya kebahagiaanmu Menggebu bagai bahorok yang turun dari atas gunung Aku menunggu kau siap, aku menunggu Aku menunggu kau percaya, aku menunggu Aku menunggu kau hadir, aku menunggu Aku menunggu hatimu, aku menunggu Kebahagiaanku tak kubiarkan diatur orang lain Dirimu, mungkin salah satu pengecualian Siaplah wahai gadis baik hati Aku sudah siap, siap menerima dirimu yang indah Jakarta, 30 April 2014
Ini semacam sajak, mungkin. Random, "ya, namanya juga sajak!" Racauku tak jelas. Jelaslah kau menemukan keacak-acakan di tulisan ini. Dunia ini tidak selalu teratur dan lurus, jadi nikmatilah, ini tulisanku.