Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2013

Si Sendal

Perasaan ini rumit yang sukar Aku dan sendal memang belum lama berkolaborasi Aku memang menyukainya, tapi dia? Dari awal pertemuan yang ada aku punya rasa Sekedarnya saja setelah itu menguap Lama aku tak mendengar dia muncul kembali Lebih dekat daripada yang dulu aku tau Tapi rasa rasanya ada ganjalan di sendal itu Entah si sendal pertama yang menyertai sendal Ataupun pasangan kanan sendal yang lama Aku yakin tak yakin namun agak tak yakin Sendal, aku tak dapat menebak dirimu Suka atau tidak aku pun tidak mengetahuinya sekarang Sendal apakah memang kau pasangan langkahku[srjd]

Senyumku Selepas Petang

Lama sudah tak ku lihat Kau yang dulu ku mau Lama sudah tak berbalas Kau yang malam dulu menggila Awalnya memang bukanmu yang ada Aku tidur, selepas petang itu Nelangsa sedang berada pada gelombang alfa Entah karena aku berpikir positif, muncul mu Bukan mu, namun melalui mu Akhirnya kau muncul juga Dengan berhias boneka bulan dan beruang Kau merayuku, rayuan yang sama sekali tidak bisa ditolak Aku sebagai alur atas, mencoba tidak hanyut Aku dan aku juga aku hanya tersenyum Maunya jungkir balik tapinya tidak kuasa Aku senyum, berbunga, sesungguhnya!! Instingku makin kuat kepadamu, dari dulu Tapi kau menyudahinya, menjegal kata-kataku Ahh bahagiaku menempel selalu Senyumku dalam hati sangatlah lebar, mungkin kau tahu Selepas petang itu rasanya inginku tidur lagi Bersama kotak hijau dan awan kata Senyumku tak menghilang, sampai detik ini Kau yang dulu ku mau Kau cantik hari ini[srjd]

Win dan Lose

Dia dingin Kepada siapa pun dia dingin, mungkin induknya Matanya adalah mata yang aku punya Bibirnya adalah bibir yang pernah menggigitku Aku takut, aku juga ingin Kehangatan seperti apa yang harusnya diciptakan Aku tak heran, siapa yang menjadi biangnya Dingin, hanya itu yang kurasakan Biru itu mulai dari kepala sampai kaki Itulah lambang kedinginannya Aku pernah memotretnya dengan kalbuku Di atas bukit, saat itu masih pagi Siapa yang berucap pertama, aku takut Dia melihatku, perasaanku dia bersahabat Aku rancu seperti jerami masuk dalam mulut kuda nil Win dan Lose Kapan menjadi yang mana aku tak tahu Aku mengucapkan siapa dirinya Aku menengahkan apa yang telah diakadkan[srjd]

Lupa atau Banyak Pesan

Aku sudah membuatnya Namun menghilang, lupa untuk disimpan Atau memang karena banyak pesan Semuanya membingungkan otak ini dalam perahu layar Panas, walaupun ku membuat untuk yang dingin Mati, untuk yang hidup seratus tahun Aku lupa, judulnya aku ingat Ini sekali sudah lewat akan terlupa Aku selalu kecewa, gelap sudah mataku Takkan kubiarkan yang jelek menjadi dua Kalau bisa, ya kuusahakan Tapi dingin barusan membuat lemas Ini karena apa entah apa ku tak tahu Teman siapa dia itu[srjd]

Hidupmu

Di kala kesedihan itu datang Aku tak tahu apa yang harus kugelapkan Dunia seakan gelap, memang sudah ditakdirkan Jatuh kepada bangun untuk sebuah diksi kata Semiotika menjadi senjata untuk mengerti Aku memang sedang sedih Sedih tanpa ujung, yang belum kesampaian Dunia Banyak yang mempersalahkan dunia Siapa keladinya? Susah diterka, aku pun bisa menjadi keladi Kutatap cinta, apakah bisa menyelesaikan Aku tidak berharap banyak, aku cukup menoleh Tolehan kedepan atas kasus hidup yang berwibawa Katanya semua ada jalan keluarnya Katanya setiap masalah pasti selesai Katanya di dunia tidak ada yang abadi Katanya, katanya adalah keragu raguan Mati pun tidak bisa diharapkan menyelesaikan Setelah mati, dalam kisah masih ada siksaan Cintaku membiasakan kesedihanku Rundung peluh memecahkan setiap ideologi Idealisme optimisme seketika menampar Selesai tidak selesai kumpulkan hidupmu!![srjd]

Dua Cerita Dua Negasi

Ini kisah tentang seorang wanita pemeluk mentari Wahai kasih taukah kau ada aku di sini Aku memundukkanmu namun memang kau tak tau, kuyakin Aku gelapkan kesetiaanmu, kau ada di sini, memelukku Aku tak sering bertemu dengan dirimu, sekalinya bak seribu Hari ini kita bertemu, kau memelukku Selepas pelukanmu kau menyuruhku melihat matamu Ahh, kesedihan dan kesedihan yang ku lihat Kau bertanya padaku apa yang ku lihat dimatamu Aku hanya berkata kesedihan Kau membenarkan dan kau menceritakan Bulan memerah menghantarkan diriku pada kenanganmu Kau merincikan apa yang terjadi dan bagaimana Aku mendengarkan, kutahan senyumku Kau bersedih, aku bahagia Ini negasi yang pertama Setelahnya kau berkata kau sedang berbunga Aku heran karena ku tak melihat itu, sesungguhnya Semilyar pertanyaan muncul dalam benakku Aku singkatkan menjadi secuil kata saja Kau bercerita tentang yang tak kulihat itu Bingung, sedih, marah, gumam, serapah Dongkol kosmis ...

Sang Keanehan

Di sini desir angin itu pun kembali Desir yang merundungkan rasa yang terlipat oleh waktu Aku menanyakan kepada semilir angin tentang rasa yang kurasa Sedih kah? Bahagia kah? Senang kah? Marah kah? Semua kembali kepada diri masing-masing Seperti biasa kalimat itu menjadi jawaban pertanyaan yang takkan terjawab Aku terpejam, rasanya air mata ini ingin menetes Namun ku bingung kenapa hal ini bisa terjadi, mengapa, apa, bagaimana Sore dengan mataharinya yang melemah mendatangkan kesenjangan Kesenjangan akan hal hal yang termakzul dalam setiap napas Aku menghargai sang waktu, begitulah caraku bersyukur Memang hidup adalah sebuah misteri, namun apakah bisa seaneh ini? Kata bijakku seakan tulisan tanpa nyawa yang terkoyak suara alam Aku ingin hidup dengan kebahagiaan, kebahagiaan yang kubuat sendiri Aku ingin bahagia dalam kesenduan ini[srjd]

Hanya Untukmu, Tugas

Indah, sangat indah bahkan sarat akan ilmu Membaur kepada kata, bergelut melalui pikiran Membuat bibir terdiam dengan semu, menggelengkan keakuan Cinta dan hasrat aku ucapkan demi mu, demi mencipta Kaki yang tertawa melipat kearah yang berlawanan Hanya untukmu Aku selalu melihat sinaran, cahaya yang mengeringkan air mata Membuat keras pikiran yang sebagainya lunak Menertawakan amarah yang terombang ambing Hanya untukmu Dulu kau begitu indah, aku sangat menyenangi saat ada mu Namun hanya satu setengah tahun, setelahnya kau membabi buta Menyerangku tiada henti, menjahatkan ku tiada ampun Menggelapkan jalan yang sejatinya diterangi lampu remang jalan Ahhhh, hanya untukmu Bahkan sekarang aku tak mau tau kamu lagi, tidak lagi Walau ku tau, kau membesarkan diriku, kau melatihku Menerangi pikiran, menaikkan pengetahuan tentang segala semesta Aku suka aku benci, aku senang aku bosan Aku tidak ingin menamaimu lagi, mungkin untuk sebulan kedepan Aku tida...

Balada Gelagap Sang Rasa

Kau tega sekali padaku - d Aku tak bermaksud begitu - n Jikalau kata maaf ini cukup kan kukatakan, namun jika kurang biar nuraniku yang berkata - n Tak mudah bagiku lupakan rasa kecewa yang mendera - d Dan kau telah menyuguhkan rasa itu begitu saja - d Ahh janganlah kau mendustakan hatimu - n Biarkan hati kecilmu mengungkapkan kegelisahan akan tiadanya diriku - n Hati takkan pernah salah dalam menyelami rasa yang hadir - d Rasakan hadirku melalui aliran cakramu, aura hidupmu, dan napas batinmu - n Hatiku lebih hidup dari denyut nadimu yang kerap kau banggakan akan denyut hidupmu - d Padahal tanpaku kau kosong dan bias - d Ku tak pernah sesumbar akan hidupku, aku hanya ingin kau tau, aku adalah semilir angin kesejukan hatimu - n Kekosongan itulah yang mengisiku, ku membaur dengan kosong, ku nistakan keisian - n Karena menurut pepatah, kosong adalah isi, isi adalah kosong - n Kau bahkan tenggelam dalam sepimu yang kelam tanpa kau sadari - d ...