Di sini desir angin
itu pun kembali
Desir yang
merundungkan rasa yang terlipat oleh waktu
Aku menanyakan kepada
semilir angin tentang rasa yang kurasa
Sedih kah? Bahagia
kah? Senang kah? Marah kah?
Semua kembali kepada
diri masing-masing
Seperti biasa kalimat
itu menjadi jawaban pertanyaan yang takkan terjawab
Aku terpejam, rasanya
air mata ini ingin menetes
Namun ku bingung
kenapa hal ini bisa terjadi, mengapa, apa, bagaimana
Sore dengan
mataharinya yang melemah mendatangkan kesenjangan
Kesenjangan akan hal
hal yang termakzul dalam setiap napas
Aku menghargai sang
waktu, begitulah caraku bersyukur
Memang hidup adalah
sebuah misteri, namun apakah bisa seaneh ini?
Kata bijakku seakan
tulisan tanpa nyawa yang terkoyak suara alam
Aku ingin hidup
dengan kebahagiaan, kebahagiaan yang kubuat sendiri
Aku ingin bahagia dalam kesenduan ini[srjd]
Comments
Post a Comment