Skip to main content

Manusia pun bisa macet...Hanya di Jakarta

Siapa bilang yang bisa macet hanya kendaraan bermotor saja, di jakarta manusia pun bisa macet layaknya kendaraan bermotor, mengapa hal tersebut bisa terjadi mungkin jawabannya ada  pada diri kita masing masing, namun penulis akan menjelaskannya sedikit.
Keramaian yang timbul di Jakarta karena banyaknya perpindahan penduduk dari desa ke kota, Jakarta tepatnya. mereka menganggap mudahnya mencari nafkah di Jakarta padahal sama sekali tidak, bahkan banyak yang gagal mencari pekerjaan di kota ini. Mereka yang tidak memiliki skill hanya bisa pasrah disini, karena semakin banayknya manusia di kota ini, makin beragam juga kemampuan yang muncul di kota ini, dari yang biasa, unik sampai yang luar biasa, ada yang menggandalkan softskill ada pula yang menggunakan hardskill untuk bersaing di kota yang keras ini.
Mereka yang datang ke kota ini hanya mendengarkan manisnya saja hidup di jakarta sedangkan mereka seakan menutup telinga untuk mendengar kisah  pahit hidup di kota ini, apalagi saat lebaran tiba, saudara mereka yang tinggal di Jakarta membawa segala cerita manis dan barang barang bagus beserta uang yang mereka dapatkan di Jakarta. Padahal, jika kita melihat ke tempat tempat penggadaian banyak sekali ora ng yang menggadaikan barangnya demi menunjukkan kesuksesan semu mereka di  Jakarta, mereka ingin menonjol di daerah asal mereka sebagai orang yang dikatakan "Sukses". Bagi mereka yang gagal hal ini menjadi sangat memilukan bagi hidup mereka masing masing, mereka hanya mengharap belas kasih di kota yang keras ini, dan memang menjadi tugas pemerintah yang mengatasinya tapi kita tak harus sepenuhnya menuntut pemerintah karena, jumlah mereka yang begitu banyak dan tersebar di Jakarta hingga agak sulit tuk pemerintah mengatasinya.
Jadi, apa yang kita ingin kerjakan pikirkan dulu lebih matang, jangan pernah hanya mengharap manisnya yang akan kita dapat namun pikirkan lebih jauh tentang resiko yang kita dapat. Kita juga harus berpikir apakah kita pantas dan benar benar memiliki kemampuan untuk bersaing, memang tak salah mencoba namun jangan salah langkah, jangan hanya ingin menampakkan kesombongan kita hidup di dunia, tapi kerendahan hatilah yang kita butuhkan untuk diri kita maupun orang lain.[srjd]

Comments

Popular posts from this blog

Kepada Adinda

Aku, sejuta bintang kian meredup Meresahkan rasa yang luluh dalam gelap Mengesankan api yang padam dalam dingin Merangkul kata pahit, menyangkal kepedihan Aku, sejuta bulan yang sudah tak berharga Sinarku kini tak ubahnya mainan dari cina Terperanjat dalam kesedihan begitu banal Ode pengusir rindupun, sirna ditelan amarah Tapi, semua hanya khayal Khayalan tengah malam yang gusar Memeluk indahnya rengkuhan cinta Berhias permata dari bidadari yang jatuh ke bumi Aku melipirkan kata-kata ini Sebagai pengantar kau ke alam mimpi Alam dimana kau bisa melakukan segalanya Selamat tidur, dinda, wanita penuh kelembutan Jakarta, 21 April 2014

"4L4Y" Doktrin? Ideologi? Kontroversi? Fenomena? Gaya Hidup? Pengotoran Mental?

  GAMBARAN UMUM 4L4Y (Alay) mungkin istilah yang tak asing lagi di dengar dewasa ini, sebenarnya apa sih alay? Awalnya alay itu adalah sebutan untuk "Anak Layangan", Anak Layangan dicirikan sebagai figur atau orang yang agak kurang terurus, biasanya Anak Layangan itu berambut merah karena terbakar matahari, berbau badan yang tak sedap dikarenakan mereka bermain di terik matahari, dan tubuhnya yang sedikit dekil karena terlalu banyak bermain, namun seiring berjalannya waktu terjadi pergeseran mindset untuk istilah Alay, sperti yang kita ketahui Alay dewasa ini adalah sebutan untuk orang yang berpenampilan Norak, Memaksakan Style, Berkata dengan Perkataan yang Khusus. Penulis bersama rekan melakukan Riset untuk hal ini. Didapatkan seseorang yang dijadikan sampel Riset, Penulis melakukan Riset melalui via Facebook, Responden tersebut memiliki 1.199 orang teman dalam akun Facebooknya, setelah Penulis menelusuri dan mendapatkan hampir 60% teman di akun Facebookya dapat dikate...

Bagaimana Tidak Senang

Bagaimana tidak senang Jika pujaan memberiku pujian Bagaimana tidak senang Jika pujaan memberiku pertanda Bagaimana tidak senang Jika pujaan bercanda akrab denganku Bagaimana tidak senang Jika pujaan menyanjung diriku Bagaimana tidak senang Jika pujaan kerap melontarkan senyum manis Bagaimana tidak senang Jika pujaan selalu percaya kepadaku Bagaimana tidak senang Jika pujaan datang memilihku untuk berbagi Bagaimana tidak senang Jika pujaan kembali kepadaku saat lama tak bicara Bagaimana tidak senang Jika pujaan berkata nyaman kepadaku Bagaimana tidak senang Jika pujaan baru saja memberikan kejelasan Bagaimana tidak senang Jika pujaan terus menghiburku Bagaimana tidak senang Jika pujaan merangkulku dikala masalah begitu pelik Bagaimana tidak senang? Jakarta, 19 Mei 2014