Skip to main content

Harian "ALAY"

Dapat dikatakan hal yang menuai kontra di kalangan banyak pihak itu adalah hal yang sering sekali kita temui di keseharian kita, yaiutu gaya berpakaian. Seperti kita ketahui beberapa style pakaian dapat kita temui di Jakarta ini, mulai dari yang biasa sampai yang aneh sekalipun,  berkaitan dengan hal itu kita memerlukan sebuah penjelasan lebih untuk sesuatu yang dikatakan “ALAY”, kata ini begitu tren dikalangan anak muda, namun apa sih “ALAY” itu? “ALAY” yang sebenarnya singkatan dari Anak Layangan itu berubah arti dan menjelma sebagi sesuatu yang “norak”. Disini kita akan membahas bagaimana “ALAY” memakai baju sebagai style mereka, mereka sangat mudah dibedakan mulai dari pakaian yang tidak pantas mereka kenakan, gaya sms, dan masih banyak lagi, kali ini kita fokus pada gaya berpakaian. “ALAYERS” biasa mengenakan celana ketat atau biasa disebut celana pensil karena makin kebawah makin kecil bak corong air, baju baju dengan warna ngejreng dan  gak mecing dengan satu sama lain, warna yang tidak membaur menurut mereka adalah sebuah kebanggaan, karena bagi mereka “exist is number one”, mereka mengejar popularitas namun menurut saya mereka mencari perhatian yang jarang mereka dapatkan. Makin “norak” makin bagus untuk mereka, karena makin bnyak mendapat perhatian, jadi sebenarnya yang mereka cari adalah “PERHATIAN” yang cukup . Laki-Laki dengan pink-nya dan pastinya gak nyambung, kacamata besar mungkin bisa disebut kacamuka karena betapa besarnya kacamata yan mereka kenakan itu, bahkan terkadang mereka memakai kacamata namun tanpa kaca?@#%# apa masih bisa disebut kacamata ya? Ahh saya tidak mengerti apa yang mereka mau, hindarkan diri kalian dari ke-“ALAY”-an, berkaca masing masing, karena “ALAY” itu merusak pandangan, buka hati dan pikiran akan yang pantas dan tidak pantas untuk kalian, hidup itu pilihan dan “ALAY”-pun adalah pilihan, think the great choice for yourself.

Comments

Popular posts from this blog

Kepada Adinda

Aku, sejuta bintang kian meredup Meresahkan rasa yang luluh dalam gelap Mengesankan api yang padam dalam dingin Merangkul kata pahit, menyangkal kepedihan Aku, sejuta bulan yang sudah tak berharga Sinarku kini tak ubahnya mainan dari cina Terperanjat dalam kesedihan begitu banal Ode pengusir rindupun, sirna ditelan amarah Tapi, semua hanya khayal Khayalan tengah malam yang gusar Memeluk indahnya rengkuhan cinta Berhias permata dari bidadari yang jatuh ke bumi Aku melipirkan kata-kata ini Sebagai pengantar kau ke alam mimpi Alam dimana kau bisa melakukan segalanya Selamat tidur, dinda, wanita penuh kelembutan Jakarta, 21 April 2014

"4L4Y" Doktrin? Ideologi? Kontroversi? Fenomena? Gaya Hidup? Pengotoran Mental?

  GAMBARAN UMUM 4L4Y (Alay) mungkin istilah yang tak asing lagi di dengar dewasa ini, sebenarnya apa sih alay? Awalnya alay itu adalah sebutan untuk "Anak Layangan", Anak Layangan dicirikan sebagai figur atau orang yang agak kurang terurus, biasanya Anak Layangan itu berambut merah karena terbakar matahari, berbau badan yang tak sedap dikarenakan mereka bermain di terik matahari, dan tubuhnya yang sedikit dekil karena terlalu banyak bermain, namun seiring berjalannya waktu terjadi pergeseran mindset untuk istilah Alay, sperti yang kita ketahui Alay dewasa ini adalah sebutan untuk orang yang berpenampilan Norak, Memaksakan Style, Berkata dengan Perkataan yang Khusus. Penulis bersama rekan melakukan Riset untuk hal ini. Didapatkan seseorang yang dijadikan sampel Riset, Penulis melakukan Riset melalui via Facebook, Responden tersebut memiliki 1.199 orang teman dalam akun Facebooknya, setelah Penulis menelusuri dan mendapatkan hampir 60% teman di akun Facebookya dapat dikate...

Bagaimana Tidak Senang

Bagaimana tidak senang Jika pujaan memberiku pujian Bagaimana tidak senang Jika pujaan memberiku pertanda Bagaimana tidak senang Jika pujaan bercanda akrab denganku Bagaimana tidak senang Jika pujaan menyanjung diriku Bagaimana tidak senang Jika pujaan kerap melontarkan senyum manis Bagaimana tidak senang Jika pujaan selalu percaya kepadaku Bagaimana tidak senang Jika pujaan datang memilihku untuk berbagi Bagaimana tidak senang Jika pujaan kembali kepadaku saat lama tak bicara Bagaimana tidak senang Jika pujaan berkata nyaman kepadaku Bagaimana tidak senang Jika pujaan baru saja memberikan kejelasan Bagaimana tidak senang Jika pujaan terus menghiburku Bagaimana tidak senang Jika pujaan merangkulku dikala masalah begitu pelik Bagaimana tidak senang? Jakarta, 19 Mei 2014