Skip to main content

Salam Bahagia!


Salam bahagia!
Salam yang teramat salam yang menegasikan semua perubahan
Kata-kata kepada perasaan yang dikatakan bahagia
Perumpamaan terhadap syair yang dinyanyikan bahagia
Aku bersalam agar kau bahagia selalu
Tentunya dengan doa dan serapah yang menyerupai doa

Aku telah berujung kepada apa yang aku rasa
Mengalirkan seberkas rasa sakit atau mungkin rasa bahagia
Aku berdoa kau dapatnya, yang terbaik bagimu mungkin
Dan dia datang kepadamu meluapkanya hingga terlupalah pribadi ini
Kau dan dia mungkin bahagia walau sikap pesimisku penuh
Aku berdoa namun ada pesimistis didalamnya
Ada ketidak baikan yang telah terserapah dari diriku
Aku ingin melepasmu dan melihat kebahagiaan (semu) itu terjadi
Dan aku akan tertawa karna dia tak sebaik aku, aku total
Dia yang menjadi kebahagiaanmu hanya gambaran dari imajinasimu
Penuh khayal, nyatanya aku tertawa melihat ketidak bahagiaanmu
Bahkan ku berdoa kau melepasku hanya untuknya, agar ku tertawa lebih lepas
Dia, menjadi penyakit dan parasit yang membuatmu kurus renta
Kebahagiaanmu dengannya adalah ketidak bahagiaanmu
Kau selalu menyimpan rasa untuknya di lubuk hatimu
Kau membayangkan dengannya hidupmu menjadi lebih sempurna
Aku pesimis! bukan itu yang kau dapat! sengsara!

Jahat mungkin, aku sakit
Sakit hati yang tak pernah dimengerti olehnya
Aku marah mungkin
Amarah karenanya tak bisa merasakan rasaku secara penuh
Ambilah sana kebahagiaanmu
Aku ingin tertawa dari kursi terdepan di setiap sandiwara khayalmu
Pikiranmu yang kau buat indah dengannya, nyatanya membuatmu sedih
Aku menikmati sekali
Ini hiburanku
Ini tawaku
Aku jahat dan aku bahagia
Salam bahagia! [srjd]

Comments

Popular posts from this blog

Kepada Adinda

Aku, sejuta bintang kian meredup Meresahkan rasa yang luluh dalam gelap Mengesankan api yang padam dalam dingin Merangkul kata pahit, menyangkal kepedihan Aku, sejuta bulan yang sudah tak berharga Sinarku kini tak ubahnya mainan dari cina Terperanjat dalam kesedihan begitu banal Ode pengusir rindupun, sirna ditelan amarah Tapi, semua hanya khayal Khayalan tengah malam yang gusar Memeluk indahnya rengkuhan cinta Berhias permata dari bidadari yang jatuh ke bumi Aku melipirkan kata-kata ini Sebagai pengantar kau ke alam mimpi Alam dimana kau bisa melakukan segalanya Selamat tidur, dinda, wanita penuh kelembutan Jakarta, 21 April 2014

"4L4Y" Doktrin? Ideologi? Kontroversi? Fenomena? Gaya Hidup? Pengotoran Mental?

  GAMBARAN UMUM 4L4Y (Alay) mungkin istilah yang tak asing lagi di dengar dewasa ini, sebenarnya apa sih alay? Awalnya alay itu adalah sebutan untuk "Anak Layangan", Anak Layangan dicirikan sebagai figur atau orang yang agak kurang terurus, biasanya Anak Layangan itu berambut merah karena terbakar matahari, berbau badan yang tak sedap dikarenakan mereka bermain di terik matahari, dan tubuhnya yang sedikit dekil karena terlalu banyak bermain, namun seiring berjalannya waktu terjadi pergeseran mindset untuk istilah Alay, sperti yang kita ketahui Alay dewasa ini adalah sebutan untuk orang yang berpenampilan Norak, Memaksakan Style, Berkata dengan Perkataan yang Khusus. Penulis bersama rekan melakukan Riset untuk hal ini. Didapatkan seseorang yang dijadikan sampel Riset, Penulis melakukan Riset melalui via Facebook, Responden tersebut memiliki 1.199 orang teman dalam akun Facebooknya, setelah Penulis menelusuri dan mendapatkan hampir 60% teman di akun Facebookya dapat dikate...

Bagaimana Tidak Senang

Bagaimana tidak senang Jika pujaan memberiku pujian Bagaimana tidak senang Jika pujaan memberiku pertanda Bagaimana tidak senang Jika pujaan bercanda akrab denganku Bagaimana tidak senang Jika pujaan menyanjung diriku Bagaimana tidak senang Jika pujaan kerap melontarkan senyum manis Bagaimana tidak senang Jika pujaan selalu percaya kepadaku Bagaimana tidak senang Jika pujaan datang memilihku untuk berbagi Bagaimana tidak senang Jika pujaan kembali kepadaku saat lama tak bicara Bagaimana tidak senang Jika pujaan berkata nyaman kepadaku Bagaimana tidak senang Jika pujaan baru saja memberikan kejelasan Bagaimana tidak senang Jika pujaan terus menghiburku Bagaimana tidak senang Jika pujaan merangkulku dikala masalah begitu pelik Bagaimana tidak senang? Jakarta, 19 Mei 2014