Skip to main content

September Kelabu

Ada orang yang bilang hidup ini udah sangat adil dan biasanya dia adalah orang yang imannya kokoh da nada juga orang yang bilang dunia ini gak adil, ini sih biasanya buat orang yang selalu pesimis dan selalu nyalahin keadaan padahal dia sendiri gak mau bertindak buat ngebenerin hidupnya. Gue, gue lagi ada di tengah-tengah itu semua. Seperti biasanya setiap bulan September selalu aja kejadian yang gak menyenangkan terjadi sama gue, kayak lagunya Green Day – Wake Me Up When September Ends, mulai dari ditolak, depresi tugas, depresi kerjaan pokoknya macem-macem. Cuma buat tahun ini gue anggap ini yang terberat, padahal gue kira September tahun ini bakal baik-baik aja, karena emang pas awal September gak terjadi kejadian yang aneh-aneh. Tapi semua berubah, di akhir bulan semua itu terjadi.
Pertama soal rambut, di saat gue lagi seneng-senengnya punya rambut gondrong yang bisa diapain aja pokoknya menurut gue rambut gue pas gondrong lagi prima-primanya. Semua berubah saat dosen yang juga pembantu dekan itu nyuruh potong rambut, alhasil gue dateng ke Barber Shop langganan temen gue, ternyata hasilnya bener-bener mengecewakan menurut gue, rambut jadi sangat amat gak kece, mao digimanain gak bagus, gak necis kalo kata orang dulu. Pada akhirnya gue ngerasa GEDEG SEGEDEG-GEDEGNYA kalo ada orang yang komentar tentang rambut gue ini, mau dia memuji atau kritik gak ada yang gue suka!
Kedua soal negara ini, gue emang bukan aktivis bahkan rasa nasionalisme gue palingan Cuma 60%, tapi saat RUU Pilkada disahkan gue ngerasa ada kehancuran yang nyata buat negara gue dan itu ada di depan mata gue. Gue mikir kota gue tersayang, Jakarta, mao kayak gimana nasibnya dipegang koruptor-koruptor atau poliTIKUS bangsat!gak rela gue sumpah! H. Lulung, mati aje lu, sumpah serapah semua buat lu. Gue gak peduli elu satu ras sama gue tapi kalo salah ya salah!
Ketiga yang paling berat buat gue, rumah gue mau dijual! Semua tanpa ada yang mengkonfirmasi ke gue, gue ngerasa dikhianatin sama keluarga gue sendiri. Gue ngerasa kenangan di rumah ini mahal banget, dari gue kecil, setiap bahagia, setiap sedih, setiap air mata, setiap tawa riang, setiap kenakalan, setiap rasa apapun yang gue asain di rumah ini, semua menurut gue gak bisa dijual semurah itu. Gue tau rumah ini memang bukan hak gue tapi gue gak bisa nutupin kesedihan gue ini, sangat gak bisa. Bahkan gue bingung kenapa justru yang lain malah seneng, ketawa ketiwi, rajin buat nyiapin  dokumen, apa mereka gak ngerasa bakal ada kenangan yang hilang ya? Gue jarang nangis dan emang susah banget air mata ini buat keluar, hati gue udah nangis, kejer, sesegukan.
Gue bingung mau curhat sama siapa dan gak siap nerima saran dari siapapun, memang beginilah gue, gue ngerasa orang harus terbuka sama gue saat ada masalah berat tapi gue gak bisa, egois. Ini jalan Tuhan, dan Tuhan punya skenario terbaik, tapi entah mengapa gue ngerasa itu nggak baik buat gue, gue gak bisa ngeliat kebaikan di kejadian yang terjadi sekarang ini, biasanya memang gue bisa liat hikmah dari sesuatu, buat kali ini, nggak. Gue nikmatin juga gak akan nikmat, gue terus  menggerutu gak manfaat juga. Gue diem aja, mungkin akan aneh buat beberapa hari bahkan minggu kedepan, gue jadi orang yang pendiam.*


*dibuat dengan rasa kecewa sekecewa-kecewanya!

Comments

Popular posts from this blog

Kepada Adinda

Aku, sejuta bintang kian meredup Meresahkan rasa yang luluh dalam gelap Mengesankan api yang padam dalam dingin Merangkul kata pahit, menyangkal kepedihan Aku, sejuta bulan yang sudah tak berharga Sinarku kini tak ubahnya mainan dari cina Terperanjat dalam kesedihan begitu banal Ode pengusir rindupun, sirna ditelan amarah Tapi, semua hanya khayal Khayalan tengah malam yang gusar Memeluk indahnya rengkuhan cinta Berhias permata dari bidadari yang jatuh ke bumi Aku melipirkan kata-kata ini Sebagai pengantar kau ke alam mimpi Alam dimana kau bisa melakukan segalanya Selamat tidur, dinda, wanita penuh kelembutan Jakarta, 21 April 2014

"4L4Y" Doktrin? Ideologi? Kontroversi? Fenomena? Gaya Hidup? Pengotoran Mental?

  GAMBARAN UMUM 4L4Y (Alay) mungkin istilah yang tak asing lagi di dengar dewasa ini, sebenarnya apa sih alay? Awalnya alay itu adalah sebutan untuk "Anak Layangan", Anak Layangan dicirikan sebagai figur atau orang yang agak kurang terurus, biasanya Anak Layangan itu berambut merah karena terbakar matahari, berbau badan yang tak sedap dikarenakan mereka bermain di terik matahari, dan tubuhnya yang sedikit dekil karena terlalu banyak bermain, namun seiring berjalannya waktu terjadi pergeseran mindset untuk istilah Alay, sperti yang kita ketahui Alay dewasa ini adalah sebutan untuk orang yang berpenampilan Norak, Memaksakan Style, Berkata dengan Perkataan yang Khusus. Penulis bersama rekan melakukan Riset untuk hal ini. Didapatkan seseorang yang dijadikan sampel Riset, Penulis melakukan Riset melalui via Facebook, Responden tersebut memiliki 1.199 orang teman dalam akun Facebooknya, setelah Penulis menelusuri dan mendapatkan hampir 60% teman di akun Facebookya dapat dikate...

Bagaimana Tidak Senang

Bagaimana tidak senang Jika pujaan memberiku pujian Bagaimana tidak senang Jika pujaan memberiku pertanda Bagaimana tidak senang Jika pujaan bercanda akrab denganku Bagaimana tidak senang Jika pujaan menyanjung diriku Bagaimana tidak senang Jika pujaan kerap melontarkan senyum manis Bagaimana tidak senang Jika pujaan selalu percaya kepadaku Bagaimana tidak senang Jika pujaan datang memilihku untuk berbagi Bagaimana tidak senang Jika pujaan kembali kepadaku saat lama tak bicara Bagaimana tidak senang Jika pujaan berkata nyaman kepadaku Bagaimana tidak senang Jika pujaan baru saja memberikan kejelasan Bagaimana tidak senang Jika pujaan terus menghiburku Bagaimana tidak senang Jika pujaan merangkulku dikala masalah begitu pelik Bagaimana tidak senang? Jakarta, 19 Mei 2014