Skip to main content

Analisis FIlm Supernova

Film Supernova maupun novelnya sengaja membawa kita dalam sebuat turbulensi pemikiran, refleksi kenyataan yang kita anggap tidak terjadi atau terjadi namun terabaikan. Berkenaan dengan visi ideologis dan filsafat Dewi 'Dee' Lestari, di dalamnya hanya pada koridor filsafat fenomenologis Husserl. Namun ada teori yang berkenaan dengan cerita, seperti, dikotomi.
Dikotomi ini salah satu superioritas tua yang berkembang sejalan adanya dialektika, baik-buruk, hitam-putih, dan masih banyak dikotomi lain, namun bagi Dee yang saya tangkap, dikotomi superior ada pada ya-tidak. Selanjutnya ya-tidak tadi berhubungan dengan manusia bereksistensi, awalnya ia masuk dalam pernyataan René Descartes yang berbunyi 'Cogito Ergo Sum', 'I Think Therefore I Am'. Tapi, menurutnya bukan hanya berpikir, karena harus ada tindakan dan konfrimasi maka ia menyematkan 'Opto Ergo Sum', 'I Choose Therefore I Am'. Konsep yang sejalan dengan pemikiran Martin Heidegger dengan konsep dasein (manusia ada), lalu Jean-Paul Sartre dengan être-en-soi dan être-pour-soi, ada pada diri dan ada bagi diri. Dengan kecenderungan manusia untuk berkata tidak, maka ada tadi tidak lepas dari ketiadaan, kecenderungan tidak tadi membuat yang ada menjadi tiada. Kata tidak tadi adalah sebuah pilihan untuk dikatakan atau tidak dikatakan (Opto Ergo Sum), membuat semua terlihat relatif. Relativitas tadi akan menjadi ajeg saat kita berada di depan titik bifurkasi dan melampaui itu, sebuah pilihan yang dipastikan, maka kata tidak tadi tentunya telah terlampaui sehingga tidak ada tidak.
Mengapa selalu tidak, bukan ya? Setelah ini kita masuk pada pemikiran Jacques Derrida dengan Dekonstruksi yang ia kemukakan. Dekonstruksi tadi sama sekali tidak boleh terlepas dari dikotomi, hanya saja perspektif yang harus dipakai adalah kata inferior. Ya-tidak (ya sebagai superior; tidak sebagai inferior) memiliki level yang tertinggi dalam dikotomi, apa pun itu, namun Dee menjelaskan tidak tadi harus dipandang sebagai entitas unik, terabaikan, termarjinalisasi, dan negativis. Tidak tadi akan menjadi paradoks jika dijunjung tinggi dalam masyarakat, terutama masyarakat konservatif. Dalam film tersebut paradoks yang diciptakan adalah avatar (wakil Tuhan) dalam bentuk cyber (internet), seorang Supernova adalah pelacur yang notabene pragmatis, tidak idealis, berfikir pendek tapi di situ digambarkan pelacur adalah seorang pengusaha yang memberdayakan dirinya sendiri, tanpa mucikari, dan memiliki otak yang cerdas. Bukankah aneh, orang yang pintar mau-maunya menjual harga diri? Disitulah letak dekonstruksi yang ditampilkan oleh Dee.
Yang terakhir adalah Teori Chaos, dunia berhubungan secara rumit, terkesan acak dan tidak terprediksi. Sebenarnya semua berhubungam, seperti saya menuliskan analisis tentang film seperti ini sekarang, di belahan bumi lain ada juga yang sedang menuliskan atau berkegiatan yang sama seperti saya. Kalau dipikir banyaknya manusia berimplikasi pada banyaknya kegiatan, namun ada yang berhubungan dan tidak kebetulan. Jika saya mengarang sebuah cerita di belahan bumi yang lainnya cerita saya adalah kehidupan nyata seseorang.
Menyoroti avatar cyber yang tadi saya bilang, wakil Tuhan, sebenarnya itu adalah refleksi diri manusia, manusia adalah Tuhan untuk manusia itu sendiri. Ini bukan berarti kita mengaku sebagai Tuhan, namun Tuhan kerap kali kita yang menciptakan. Bahkan kalau pun iman kita sama, apakah Tuhan yang ada di kepalamu sama dengan Tuhan yang ada dikepalaku. Maka itu, manusia adalah Tuhan untuk manusia itu sendiri. Akhirnya avatar atau supernova tadi bisa siapa saja karena manusia bisa siapa saja.
Pelajaran apa yang bisa kita ambil dalam film supernova? Biar saya runut satu-satu. Menghilangkan prasangka negatif, yang terlihat belum tentu yang terjadi; Tuhan yang kau imani biarkan menjadi Tuhanmu jangan memaksanya; Di dunia kita tidak akan sendiri, selalu memilki hubungan; Hidup akan selalu dihadapkan pada titik bifurkasi, lampaui maka kau menang; Semua yang terjadi dalam dirimu adalah kamu yang tahu dan benar-benar tahu; terakhir, Aku adalah refleksi kamu, jangan pernah ada sentimen atau menghakimi.
Begitulah analisis singkat yang bisa saya paparkan, sangat singkat sekali, sebenarnya saya ingin membahas secara mendalam tapi ada hal-hal yang tidak terlampaui. Terima Kasih.

18 Desember 2014
A.M. Sirojjudin

Comments

Popular posts from this blog

Kepada Adinda

Aku, sejuta bintang kian meredup Meresahkan rasa yang luluh dalam gelap Mengesankan api yang padam dalam dingin Merangkul kata pahit, menyangkal kepedihan Aku, sejuta bulan yang sudah tak berharga Sinarku kini tak ubahnya mainan dari cina Terperanjat dalam kesedihan begitu banal Ode pengusir rindupun, sirna ditelan amarah Tapi, semua hanya khayal Khayalan tengah malam yang gusar Memeluk indahnya rengkuhan cinta Berhias permata dari bidadari yang jatuh ke bumi Aku melipirkan kata-kata ini Sebagai pengantar kau ke alam mimpi Alam dimana kau bisa melakukan segalanya Selamat tidur, dinda, wanita penuh kelembutan Jakarta, 21 April 2014

"4L4Y" Doktrin? Ideologi? Kontroversi? Fenomena? Gaya Hidup? Pengotoran Mental?

  GAMBARAN UMUM 4L4Y (Alay) mungkin istilah yang tak asing lagi di dengar dewasa ini, sebenarnya apa sih alay? Awalnya alay itu adalah sebutan untuk "Anak Layangan", Anak Layangan dicirikan sebagai figur atau orang yang agak kurang terurus, biasanya Anak Layangan itu berambut merah karena terbakar matahari, berbau badan yang tak sedap dikarenakan mereka bermain di terik matahari, dan tubuhnya yang sedikit dekil karena terlalu banyak bermain, namun seiring berjalannya waktu terjadi pergeseran mindset untuk istilah Alay, sperti yang kita ketahui Alay dewasa ini adalah sebutan untuk orang yang berpenampilan Norak, Memaksakan Style, Berkata dengan Perkataan yang Khusus. Penulis bersama rekan melakukan Riset untuk hal ini. Didapatkan seseorang yang dijadikan sampel Riset, Penulis melakukan Riset melalui via Facebook, Responden tersebut memiliki 1.199 orang teman dalam akun Facebooknya, setelah Penulis menelusuri dan mendapatkan hampir 60% teman di akun Facebookya dapat dikate...

Bagaimana Tidak Senang

Bagaimana tidak senang Jika pujaan memberiku pujian Bagaimana tidak senang Jika pujaan memberiku pertanda Bagaimana tidak senang Jika pujaan bercanda akrab denganku Bagaimana tidak senang Jika pujaan menyanjung diriku Bagaimana tidak senang Jika pujaan kerap melontarkan senyum manis Bagaimana tidak senang Jika pujaan selalu percaya kepadaku Bagaimana tidak senang Jika pujaan datang memilihku untuk berbagi Bagaimana tidak senang Jika pujaan kembali kepadaku saat lama tak bicara Bagaimana tidak senang Jika pujaan berkata nyaman kepadaku Bagaimana tidak senang Jika pujaan baru saja memberikan kejelasan Bagaimana tidak senang Jika pujaan terus menghiburku Bagaimana tidak senang Jika pujaan merangkulku dikala masalah begitu pelik Bagaimana tidak senang? Jakarta, 19 Mei 2014