Skip to main content

Posts

Unfinish

Kejutan dalam ketakselesaian, ada satu, terus ku-update, jadi belum bisa posting deh. Judulnya sih itu hahahaha Aku telah pada kebencianku Untuk merapalkan sumpah mati Kepada seorang yang memimpin Balik saja kau ke neraka[...]

Bagaimana Tidak Senang

Bagaimana tidak senang Jika pujaan memberiku pujian Bagaimana tidak senang Jika pujaan memberiku pertanda Bagaimana tidak senang Jika pujaan bercanda akrab denganku Bagaimana tidak senang Jika pujaan menyanjung diriku Bagaimana tidak senang Jika pujaan kerap melontarkan senyum manis Bagaimana tidak senang Jika pujaan selalu percaya kepadaku Bagaimana tidak senang Jika pujaan datang memilihku untuk berbagi Bagaimana tidak senang Jika pujaan kembali kepadaku saat lama tak bicara Bagaimana tidak senang Jika pujaan berkata nyaman kepadaku Bagaimana tidak senang Jika pujaan baru saja memberikan kejelasan Bagaimana tidak senang Jika pujaan terus menghiburku Bagaimana tidak senang Jika pujaan merangkulku dikala masalah begitu pelik Bagaimana tidak senang? Jakarta, 19 Mei 2014

Masa Waktu

Rasa diri menggelapkan keutamaan sang fajar Menggariskan noda hitam pada lembaran yang tak direstui Menjegal kesegaran duniawi dalam jelaga biru dunia Berkutat pada keharuman sang kasih dan segala cintanya Aku berdiri dibawah langit yang menggantung jatuh Ku menjaga, agar semua impianku tetap di sana Menggaruk keresahan dalam pagutan tentram Menyangka bahwa ketakutan sirna ditelan durjana Kala kau menyia-nyiakan sang waktu Maka kau akan disia-siakan sang masa Nirwana, sungguh ku tak ingin menjadi kegagalan yang ajeg Kesiaan masaku denganmu, tak pernah kubiarkan merapuh Jakarta, 1 Mei 2014

Aku Menunggu

Wahai gadis, dirimu masih belum dapat kusentuh Namun jiwamu, aku sudah sangat rasakan Hatimu hangat, bahkan aku cukup itu dikala malam menggerayang Peringaimu manis, aku akan selalu membuat itu jadi manis Ini ungkapan, aku memang belum sempurna Aku ingin, hanya ingin mendalami hidupmu Berjaya merasakan derasnya kebahagiaanmu Menggebu bagai bahorok yang turun dari atas gunung Aku menunggu kau siap, aku menunggu Aku menunggu kau percaya, aku menunggu Aku menunggu kau hadir, aku menunggu Aku menunggu hatimu, aku menunggu Kebahagiaanku tak kubiarkan diatur orang lain Dirimu, mungkin salah satu pengecualian Siaplah wahai gadis baik hati Aku sudah siap, siap menerima dirimu yang indah Jakarta, 30 April 2014

Telah Larut

Maha patih, sampai malam ini kau enggan memberi sumpah Malam yang tajam menggumamkan sejuta kisah Aku bertatih semua akan berlubang dalam perih Tapi aku yakin semua bisa bersedih Malam kian larut, mataku sudah digentayangi Aku sangat mencoba, menggumam tentang hal duniawi Nyatanya aku bisa tak sadarkan diri sesudahnya Selamat malam, aku berkata kepadamu, kepada para pejajak kata Jakarta, 30 April 2014

Bait Takdir

Terpandang dalam hati yang enggan berbisik Meradang pada diri yang mulai merasakan satu Menerjang patahan langit yang ingin ikut campur Bergandeng dengan surga yang menyentuh diri Kita, baru saja berbagi nestapa yang memiliki indah Menggumam, berceloteh bagai waktu sudah hampir habis Berjalan, walau ruang membatasai keniscayaan diri kita Berirama, merdu bagai musik sang dewa harpa yang elok Kuasa, aku berkata tanpa aku harus susah berupaya Menggaet, alam yang terik menyinariku atas berkata Merangkul, aku sudah menggambar yang belum nampak juga Bernyanyi, merdu suara gelap yang terlampau indah Selamat malam, wahai pagi hari Aku harap aku sampai kepada hariku Hari dari hati yang mulai menggelora Kebahagiaan dalam pertemuan bait takdir Jakarta, 29 April 2014

Hari Ketujuh

Aku, kamu, hari yang sudah ketujuh Resapan kalimat sudah pada aliran udara Mengecap segala hal kecil maupun besar Mendendangkan tawa serta kesenduan Aku, kamu, hari yang sudah ketujuh Pertemuan ini terasa sesingkat waktu modern Degup meradang tak ayal sudah jauh berlalu Sirat alam membuat terkuak dan mudah dibicarakan Aku, kamu, hari yang sudah ketujuh Rasa nyaman sudah mendoktrin pikiran Dogma kata sudah bersemayam dalam kalbu Memancarkan metafor kehidupan yang hanya sebelah Aku, kamu, hari yang sudah ketujuh Pikiranku menguap, rasa terima kasih aku lontarkan Kata-kataku mencair, mencari ruang dalam seri Pejamanku, selalu terfiksi kejadian yang baru terlewati Selamat hari ketujuh pertemuan kita, dinda :) Jakarta, 28 April 2014