Skip to main content

Posts

Analisis FIlm Supernova

Film Supernova maupun novelnya sengaja membawa kita dalam sebuat turbulensi pemikiran, refleksi kenyataan yang kita anggap tidak terjadi atau terjadi namun terabaikan. Berkenaan dengan visi ideologis dan filsafat Dewi 'Dee' Lestari, di dalamnya hanya pada koridor filsafat fenomenologis Husserl. Namun ada teori yang berkenaan dengan cerita, seperti, dikotomi. Dikotomi ini salah satu superioritas tua yang berkembang sejalan adanya dialektika, baik-buruk, hitam-putih, dan masih banyak dikotomi lain, namun bagi Dee yang saya tangkap, dikotomi superior ada pada ya-tidak. Selanjutnya ya-tidak tadi berhubungan dengan manusia bereksistensi, awalnya ia masuk dalam pernyataan René Descartes yang berbunyi 'Cogito Ergo Sum', 'I Think Therefore I Am'. Tapi, menurutnya bukan hanya berpikir, karena harus ada tindakan dan konfrimasi maka ia menyematkan 'Opto Ergo Sum', 'I Choose Therefore I Am'. Konsep yang sejalan dengan pemikiran Martin Heidegger dengan kon...

September Kelabu

Ada orang yang bilang hidup ini udah sangat adil dan biasanya dia adalah orang yang imannya kokoh da nada juga orang yang bilang dunia ini gak adil, ini sih biasanya buat orang yang selalu pesimis dan selalu nyalahin keadaan padahal dia sendiri gak mau bertindak buat ngebenerin hidupnya. Gue, gue lagi ada di tengah-tengah itu semua. Seperti biasanya setiap bulan September selalu aja kejadian yang gak menyenangkan terjadi sama gue, kayak lagunya Green Day – Wake Me Up When September Ends, mulai dari ditolak, depresi tugas, depresi kerjaan pokoknya macem-macem. Cuma buat tahun ini gue anggap ini yang terberat, padahal gue kira September tahun ini bakal baik-baik aja, karena emang pas awal September gak terjadi kejadian yang aneh-aneh. Tapi semua berubah, di akhir bulan semua itu terjadi. Pertama soal rambut, di saat gue lagi seneng-senengnya punya rambut gondrong yang bisa diapain aja pokoknya menurut gue rambut gue pas gondrong lagi prima-primanya. Semua berubah saat dosen yang juga ...

Unfinish

Kejutan dalam ketakselesaian, ada satu, terus ku-update, jadi belum bisa posting deh. Judulnya sih itu hahahaha Aku telah pada kebencianku Untuk merapalkan sumpah mati Kepada seorang yang memimpin Balik saja kau ke neraka[...]

Bagaimana Tidak Senang

Bagaimana tidak senang Jika pujaan memberiku pujian Bagaimana tidak senang Jika pujaan memberiku pertanda Bagaimana tidak senang Jika pujaan bercanda akrab denganku Bagaimana tidak senang Jika pujaan menyanjung diriku Bagaimana tidak senang Jika pujaan kerap melontarkan senyum manis Bagaimana tidak senang Jika pujaan selalu percaya kepadaku Bagaimana tidak senang Jika pujaan datang memilihku untuk berbagi Bagaimana tidak senang Jika pujaan kembali kepadaku saat lama tak bicara Bagaimana tidak senang Jika pujaan berkata nyaman kepadaku Bagaimana tidak senang Jika pujaan baru saja memberikan kejelasan Bagaimana tidak senang Jika pujaan terus menghiburku Bagaimana tidak senang Jika pujaan merangkulku dikala masalah begitu pelik Bagaimana tidak senang? Jakarta, 19 Mei 2014

Masa Waktu

Rasa diri menggelapkan keutamaan sang fajar Menggariskan noda hitam pada lembaran yang tak direstui Menjegal kesegaran duniawi dalam jelaga biru dunia Berkutat pada keharuman sang kasih dan segala cintanya Aku berdiri dibawah langit yang menggantung jatuh Ku menjaga, agar semua impianku tetap di sana Menggaruk keresahan dalam pagutan tentram Menyangka bahwa ketakutan sirna ditelan durjana Kala kau menyia-nyiakan sang waktu Maka kau akan disia-siakan sang masa Nirwana, sungguh ku tak ingin menjadi kegagalan yang ajeg Kesiaan masaku denganmu, tak pernah kubiarkan merapuh Jakarta, 1 Mei 2014

Aku Menunggu

Wahai gadis, dirimu masih belum dapat kusentuh Namun jiwamu, aku sudah sangat rasakan Hatimu hangat, bahkan aku cukup itu dikala malam menggerayang Peringaimu manis, aku akan selalu membuat itu jadi manis Ini ungkapan, aku memang belum sempurna Aku ingin, hanya ingin mendalami hidupmu Berjaya merasakan derasnya kebahagiaanmu Menggebu bagai bahorok yang turun dari atas gunung Aku menunggu kau siap, aku menunggu Aku menunggu kau percaya, aku menunggu Aku menunggu kau hadir, aku menunggu Aku menunggu hatimu, aku menunggu Kebahagiaanku tak kubiarkan diatur orang lain Dirimu, mungkin salah satu pengecualian Siaplah wahai gadis baik hati Aku sudah siap, siap menerima dirimu yang indah Jakarta, 30 April 2014

Telah Larut

Maha patih, sampai malam ini kau enggan memberi sumpah Malam yang tajam menggumamkan sejuta kisah Aku bertatih semua akan berlubang dalam perih Tapi aku yakin semua bisa bersedih Malam kian larut, mataku sudah digentayangi Aku sangat mencoba, menggumam tentang hal duniawi Nyatanya aku bisa tak sadarkan diri sesudahnya Selamat malam, aku berkata kepadamu, kepada para pejajak kata Jakarta, 30 April 2014